Bukan Jus Biasa.. Sekali teguk langsung mak nyusss...

Jumat, 03 Agustus 2012

Menjadi seorang pustakawan

Berawal dari bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang pendidikan.. Pekerjaan kami tak jauh dari buku.. Mulai dari Pengadaan Buku di sekolah sampai penerbitan sebuah buku. Saya sendiri hampir setiap hari bersanding di samping buku. Jujur ya dulu saya paling males membaca buku, sekarang si mulai doyan membaca buku. Ga tega saya melihat buku menumpuk segunung ga ada yang membaca. Awalnya saya ambil satu buku, ternyata sangat mengasyikan saat membaca buku, kemudian habis dah semua buku saya baca (agak lebay dikit). 

Bekerja di sebuah pengadaan buku, seringkali kami harus menjalin hubungan dengan sekolah-sekolah, UPT pendidikan maupun Dinas Pendidikan. Tak jarang saya  harus terjun langsung ke sekolah-sekolah untuk mengirimkan buku-buku kami. Yang saya lakukan di sekolah ya ketemu sama Kepala Sekolah untuk minta tanda tengan serah terima buku. Di sekolah-sekolah tersebut, selalu saya sempatkan untuk menengok perpustakaannya. Dengan basa-basi saya bertanya kepada kepala sekolah, "Pak, perpustakaanya udah ada pustakawannya belum". kebanyakan kepala sekolah menjawab "belum, mas". ada juga sii yang menjawab begini "sudah mas, guru disini merangkap sebagai pustakawan juga". atau jawaban "sudah mas, kemarin sudah ada yang lamar". nah terus saya bertanya lagi "Lulusan perpustakaan bukan pak?" Hampir semua Kepala Sekolahnya menjawab "bukan".

Nah dari ocehan saya di atas dapat disimpulkan, Hampir Perpustakaan Sekolah (SD khususnya) belum dipegang sama pustakawan beneran. Klo gtu gmn dunk cara mengolah bukunya kalo ga tahu tentang pengolahan buku. Mereka siii yang penting buku itu ditata rapi di sebuah rak. Sebenarnya mengolah sebuah buku tidak hanya menatanya di rak, tp perlu proses2 yang agak njelimet. Ada seorang teman bertanya kepada saya "Bro, ngolah perpus tu apa aja c yang harus dilakukan" dia teman saya yang bekerja sebagai guru SD dan dikasih amanat untuk mengolah perpus. terus saya tanya balik "kok kamu sii yang ngolah perpus, kamu kan guru??" "ya bro, soalnya akan ada penilaian akreditasi, jadi perpustakaan harus diolah, belum ada pustakawannya c". 

Sudah jelas kan kalo peprpustakaan itu termasuk dalam penilaian akreditasi, jadi jangan mengolah perpustakaan dengan asal2an. Mengolah perpustakaan itu ada ilmunya. Belajar tentang perpustakaan ada dua macam caranya. Pertama, kamu bisa ikut diklat perpustakaan yang biasa diadakan oleh dinas pendidikan dan Perpustakaan Umum Daerah. Yang kedua, kamu belajar di sebuah pendidikan formal perkuliahan jurusan ilmu perpustakaan.

Berikut saya mau ngasih tips singkat cara mengolah perpustakaan. Gini2 juga saya pernah belajar ilmu perpustakaan. xixixxixi.. ^_^ Oke langsung saja ya saya kasih tau langkah2nya dalam mengolah buku


1. Penerimaan
Ini adalah langkah pertama kali saat menerima buku dari distributor buku. Yang harus dilakukan adalah mengecek semua buku dan harus sama dengan Berita Acara Serah Terima. Klo ada kekurangan harus segera komplain biar bisa segera di proses sama distributornya. Klo ada yang kelebihan, harus segera dikembalikan. Yang terjadi di sekolah kebanyakan klo ada kekurangan pada komplain terus, tapi klo ada kelebihan diam saja (kami sebagai distributor rugi kalo ada yang begini). 


2. Pengolahan
setelah dipastikan buku2 yang diterima sama dengan BAST maka harus segera di olah. ini langkahnya


- stampel
stampel berfungsi untuk memberi identitas pada buku yang kita terima, ada 2 macam stampel yaitu stampel inventaris dan stampel perpustakaan sekolah. Yang pertama distampel adalah halaman judul, pilih halaman judul yang kedua bukan yang pertama. Satu kali stampel inventaris dan stampel perpustakaan.
setelah halaman judul kita stampel halaman isi buku. Halaman isi ga perlu dikasih stampel inventaris. Kita tidak boleh asala lho dalam menyetempel. Kita harus punya ciri khas dalam menyetempel dan harus konsisten. Ciri khas itu ada pada letak stampel. contoh : kita selalu menyetempel pada halaman kelipatan 20. 


- Menentukan tajuk subjek dan nomer klasifikasi.
Seperti pada pelajaran biologi, makhluk hidup itu ada pengklasikasiannay. Buku pun juga diklasifikasikan. contoh Buku >> buku bahasa >> bahasa indonesia >> cara menulis >> menulis puisi >> ....
Nah, klasifikasi tersebut disimbolkan dengan angka. Yang sering dipakai menjadi pedoman dalam mengklasifikasi buku adalah DDC (Dewey Decimal Clasification). Buku DDC harganya sangat mahal, jutaan lah.. Untuk bisa mendapatkan DDC kita dunlud aja yang gratisan e-DDC. cari aja di gugel.


- Memasukkan data buku pada buku inventaris atau buku induk
"Sekarang ini kan jaman serba canggih, ngapain harus bikin buku induk, ngrepotin segala" Pasti banyak yang berpikiran seperti itu. Buku inventaris itu hukumnya wajib, yang males nulis2 pke tangan, biasain lah nulis buku induk. Yang harus diisi adalah data tentang Nomer invetaris, judul buku, pengarang, penerbit, tahu terbit, kota terbit, bahasa, asal buku, tajuk subjek, nomer klasifikasi, jumlah eksemplar buku.


- Membuat Label
Label ini biasanya ditempelkan pada punggung buku, tempelkan label pada punggung buku dengan ukuran sekitar 10cm dari bawah buku. Usahakan semua buku ditempelkan lebel dengan ukuran yang sama, biar buku itu rapi. Yang perlu dicantumkan pada label adalah nomer klasifikasi, 3 digit nama belakang penulis, huruf pertama judul buku.
contoh:
123.4      (nomor klasifikasi)
AHM      (3 digit nama belakang penulis misal Joko Ahmad)  
P             (judul buku "perjalanan panjang")


- penyampulan
Setelah diberi label, sebaiknya buku diberi sampul biar buku tersebut awet. tempelin juga didalam buku tersebut, peraturan peminjaman buku, tanggal kembali dll. Setelah disampuli maka buku tersebut siap dipinjamkan.


-pengatalogan
katalog ada 2 macam, katalog kertas dan katalog online (OPAC). Katalog kertas biasanya udah ada pada buku tersebut atau yang sering juga disebut KDT (Katalog dalam terbitan). Yang sudah ada KDT tinggal disalin aja tuh. Tapi yang belum ada KDT ya terpaksa bikin katalog sendiri. Bentuknya sama kaya KDT tersebut.
Katalog online adalah katalog yang bisa dibuka secara online. Buat yang suka gratisan, ada kog versi open source, namanya SLIMS (Senayan Library Management System)


3. Pelayanan
Banyak yang salah sangka kalo jadi pustakawan itu harus galak, itu salah besar. Pustakawan itu harus ramah, tugas pustakawan adalah melayani pemustaka. Buatlah pemustaka itu merasa nyaman dan betah saat berada di perpustakaan

Udah ah, saya rasa cukup sekian saya mengoceh disini. Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tulis, tapi mata ini udah pedes banget menatap layar monitor.

:p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright© 2011 - 2014 oleh F. AHMAD